Untukmu yang menyejarah

Banyak orang menyatakan bahwa dirinya tidak menyukai sejarah. Dengan berbagai alasan yang dikemukakan, hampir seluruhnya berujung pada satu definisi umum, bahwa ‘Sejarah adalah suatu ilmu yang membosankan dan tidak berefek apapun terhadap dirinya, maupun kehidupannya”.

Sejarah sebagai suatu ilmu tersendiri memang tidak seperti disiplin ilmu pada umumnya. Ia seperti tidak memiliki suatu rumus baku dalam penyelesaiannya. Seakan tidak ada formula khusus dalam mengurai apa yang ingin diselesaikan. Tidak seperti ilmu eksakta, atau ilmu baku lainnya.

Meminjam istilah Louis Gotchalk,

“every man his own historian”

Bahwa setiap orang adalah sejarawan bagi dirinya sendiri. Setiap orang akan menjadi sejarawan yang akan menjelaskan dirinya sendiri.

Dia akan menjelaskan tentang sejarah hidupnya, sejarah orangtuanya, sejarah tentang perjalanan hidupnya dan sejarah apapun yang berkaitan tentang apa yang ada dalam hidupnya.

Sederhananya,

“Sejarah adalah menceritakan manusia di dalam waktu”. Artinya bahwa, inti dari sejarah adalah manusia yang ‘bertugas’ sebagai subjek utama dalam rentetan waktu. Jika kita membuat suatu logika premis sederhana, maka;

+ Sejarah adalah menceritakan manusia di dalam waktu

+ Setiap dari kita adalah manusia

_________________________________________+

+ Setiap manusia adalah pelaku utama sejarah

Sungguh, setiap ilmu adalah hasil dari perenungan dan pengalaman dari suatu kejadian yang panjang nan berulang. Karenanya, dibuatlah suatu analisa untuk menyelesaikan kejadian itu agar menjadi masalah yang dapat terselesaikan dengan bijak demi kemaslahatan umat manusia. Dibuatlah suatu formulasi yang dapat menghasilkan kejadian baru yang lebih solutif dan mengedepankan nilai-nilai.

Tantangan sejarah di masa depan

Mengutip lirik Mbak Inul Daratista-, bahwa “masa lalu biarlah masa lalu.” Menariknya, petikan berikutnya adalah “Jangan kau ungkit jangan kau ingat selalu“. 

Memang, lagu ini menjelaskan tentang suatu hal yang menyakitkan sebelumnya, sehingga merasa tidak perlu diulas kembali. Padahal ilmu sejarah sudah menawarkan kemudahan siapapun yang mau membahasnya.

Dalam sejarah, ini disebut sebagai suatu rekonsiliasi, yakni usaha untuk menemukan [minimal mendekati] kebenaran yang diamini semua pihak. Kita memang tidak bisa menerka kebenaran, namun tetap diperlukan usaha untuk berusaha mendekati hal itu. Demikian qoul para filosof.

Rekonsiliasi sering dilakukan modern ini. Suatu Negara yang pernah menjajah terkadang melakukan rekonsiliasi kepada negara yang pernah dimakannya. Kemudian memberikan beberapa ganti rugi bagi negara yang dijajah itu. Di Indonesia sendiri, usaha rekonsiliasi pernah dilakukan. Tepatnya pada Korban G-30 September. Pemerintah membuat suatu usaha menemukan titik temu bagi para korban peristiwa yang memilukan itu dan mengajak dialog. Usaha ini diharapkan mampu meredam ‘sakit hati’ para korban, keluarga dan keturunannya. Mereka harus mendapat cap Eks-Tapol (Tahanan Politik) yang dipandang sebagai  stigma negatif. Dengan adanya usaha ini pula, timbul kembali suasana kondusif dalam berkehidupan sehari-hari.

Demikian sejarah menempatkan manusia sebagai subjek utama. Dari perjalanan panjang sejarah, muncullah ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya. Misal: Sosiologi, Antropologi, Psikologi dan lainnya. Seluruhnya tentu hasil dari perjalanan sejarah tadi. 

Kaderisasi sejarawan adalah hal mutlak bagi manusia. Karena, sejauh-jauhnya burung terbang, ia akan tetap kembali ke sarangnya. Semodern-modernya manusia menciptakan zaman, ia akan kembali kepada kodratnya sebagai manusia, yang akan memunculkan rasa keingintahuannya kepada asal-usul dan kisah sebelumnya.

Setiap langkah kita, adalah langkah yang telah kita lalui sebelumnya.

Demikian pula,

Aku akan tetap berada disini sampai kapanpun dan ku biarkan kau beranjak kemanapun kau mau. Agar ketika kau merasa tak beranjak, setidaknya ada aku yang mudah kau temui keberadaannya. 

🙂 

Gubah – Ubah – Kubah (4)

“Oh iya, maaf Pak Ustadz, saya minta izin tahan dulu, ada beberapa hal yang agaknya perlu di diskusikan secara mendalam, terlebih mengenai warga kita.” jawab Pak RW.

“Karena masalah ini saya anggap penting, makanya saya hanya meminta bapak-bapak di sini sebagai sosok yang saya harapkan bantuan jawabannya.”

“Bapak-bapak.. Ciboled adalah Dusun yang sudah sangat jauh dari pusat kota, dan saya yakin semua sudah menyadari hal itu…”. Lanjutnya.

“Semua dari kita pun menyadari, bagaimana orang tua kita membangun Dusun ini sedemikian rupa, sehingga anak cucu kita saat ini bisa merasakan bagaimana sejuknya wilayah ini”.

“Saat ini kita tengah berhadapan dengan apa yang orang sebut sebagai suatu hal yang perlu diwaspadai. Setiap orang bahkan telah merasa seakan-akan menjadi orang lain. Dan yang disayangkan, itu yang mulai kini kita tengah rasakan..”

Pak Ustadz Anas, dan yang lainnya semakin tertegun mendengar penjelasan Pak RW.

“Hal sederhananya bisa kita saksikan malam ini..”

“Rapat malam ini menunjukkan bagaimana anak muda kita telah mengalami sedikit perubahan. Yaa.. saya lebih suka menyebutnya ‘sedikit’.. karena biar bagaimanapun, masih saya liat bagaimana mereka tetap merasa diri sebagai seorang asli Ciboled, yang santun terhadap yang tua, dan tadi juga kalo ga salah mereka yang membereskan rumah bapak ya setelah rapat tadi”, lanjut Pak RW sambil melihat Pak Romdoni yang dibalas dengan anggukan berulang.

“Benar apa yang disampaikan Nabi Muhammad, bahwa musuh yang sebenarnya itu ada dalam diri kita masing-masing. Ketidakmampuan dalam menangani hal ini akan malah membuat pemuda kita semakin memprihatinkan..”, “Untuk hal ini mungkin Ustadz Anas lenih mafhum dibanding saya..” kembali wajahnya menoleh, kali ini yang disasar adalah Ustadz Anas. Melihat alis Pak RW yang menaik di pangkal dan menurun di ujungnya, Ustadz Anas mengambil nafas panjang, beliau sepertinya merasakan apa yang Pak RW risaukan.

“Maaf Pak RW, bukankah berangkatnya mereka ke kota, adalah pilihan yang sebelumnya telah disepakati banyak tokoh masyarakat Dusun dan guru-guru Ciboled?” Pak RT 01 mulai angkat bicara. Ia menyadari, bahwa sebagian besar pemuda yang berangkat ke kota memang berasal dari wilayahnya. Pak RT 01 yang bernama Pak Supra, memiliki tubuh berisi namun tidak terlalu gemuk. Ia adalah ketua RT yang dianggap paling kritis terhadap Dusunnya. Karena memang, hanya wilayahnya saja lah yang menjadi perbatasan, lucunya, wilayah itu juga tidak berdekatan dengan sungai dan sawah. Malah lebih dekat ke perbatasan Dusun Cirampes, Dusun sebelah yang menjadi sumber penambangan batu koralit dan split. Menariknya, warga Ciboled tidak ingin wilayahnya dilalui jalur truk-truk besar yang mengangkut hasil penambangan itu. Namun, karena letak geografis yang membuat cukup sulit untuk dialihkan, mau tidak mau wilayah RT 01 lah yang rela mengalah, sebab terdapat kelokan yang menjadi penghubung ke Dusun sebelahnya jika tidak melalui ujung Ciboled itu. Dengan begitu, wilayah RT 01 sedikit terasa lebih ramai dan bising dibanding wilayah RT lainnya.

“Benar Pak RT Supra, berkumpulnya kita disini adalah hasil lain dari harapan itu. Kita sama-sama berembug disini, agar mampu menemukan langkah-langkah pencegahan ke depannya. Apalagi saya dengar beasiswa berikutnya akan datang lagi kesini ya Pak RT Sandi?” menengok ke arah Pak RT Sandi, ketua RT 02. Pak RT Sandi adalah seorang guru di Madrasah Aliyah Negeri Ciboled. “Iya betul begitu Pak RW, Insya Allah 2 tahun lagi menurut informasi yang pernah disampaikan oleh orang  Kabupaten” jawab Pak Sandi.

“Bapak-Bapak, saya sungguh tidak ingin membahas mendalam mengenai beasiswanya, apalagi sampai harus menyalahkannya. Kita sudah merasa sangat terbantu dengan banyaknya kemudahan pendidikan tinggi yang diberikan kepada Dusun kita.”

“Setiap manusia pada hakikatnya adalah orang baik. Lingkungannya lah yang memberi warna orang tersebut. Anak-anak itu terlahir dari saripati Ciboled. Tumbuh dan besar dalam wilayah yang selalu kita jaga keasrian daratan dan masyarakatnya. Mungkin Bapak-bapak mungkin masih ingat bagaimana dahulu ketika ada orang yang bergabung bersama kita, namun dia ingin mengubah pola kehidupan masyarakat dengan apa yang ia yakini. Ia selalu menawarkan gagasan yang sebenarnya bagus, namun sangat disayangkan penyampaian yang dilakukantidak dengan pendekatan-pendekatan yang berlandaskan pendekatan yang harmonis. Ketika sedang rapat tadi, saya dibisiki hal ini oleh Pak Romdoni, dan seakan teringat kembali. Sosok yang cerdas itu harus pergi sebelum menyelesaikan keinginan baiknya itu bagi Dusun ini. Bukankah itu sangat dilematis?”.  Iba Pak RW.

“Jadi intinya adalah, bagaimana kita mulai mencari solusi untuk anak-anak pemuda ini ya Pak RW?” tanya Pak RT Supra.

“Kira-kira demikian Pak RT..” sigap Pak RW.

Revolusimu Belum Selesai, pekik Bung Karno dalam suatu podium. Agaknya ini sesuai dengan problem yang tengah dihadapi. Para tokoh Agama dan Masyarakat itu mencoba mengurai masalah itu malam ini. Seduhan kopi sudah lama dingin, sebagaimana udara malam Ciboled.

Memaafkan Ramadhan

Maafkanlah Ramadhan, karena ia datang secara segera dan hendak pergi dengan segera..

maafkanlah Ramadhan, karena ia pergi tanpa sedikitpun menengok keadaan kita yang masih belum mampu kehilangannya..

Maafkanlah Ramadhan..

GUBAH – UBAH – KUBAH (3)

“Terima kasih Pak RW..”, kata Hasan.

“Begini Pak, saya cuma ingin nanya, sebenarnya apa yang sedang kita lakukan disini?, bahkan harus sampai tengah malam begini?” tambahnya.

Mendengar pertanyaan itu, Pak RW terdiam tegun sembari menengok ke tempat Pak Romdoni duduk, ia sadar, itu adalah bentuk pertanyaan yang berbalut keluhan. Pak RW tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat Haki dan Sobri, para ketua RT dan seluruh warganya dengan pandangan penuh pertanyaan. Di dalam otaknya, terdapat banyak pikiran, baik tentang keluarga, pekerjaan dan juga problematika masyarakat seperti mekanisme masalah-masalah yang telah rampung sebelumnya. Namun Pak RW selalu saja profesional dan terukur, lebih-lebih ketika sedang menghadapi warga. Demikian pula masalah malam ini, juga istilah-istilah aneh yang ia dapat melalui Haki dan Sobri.

Baca lebih lanjut

GUBAH – UBAH – KUBAH (2)

Tiga tahun sudah semenjak penawaran itu dibuka, sampailah malam ini, dimana Haki anak Pak Tawas, tukang bakso itu, yg mendapat beasiswa ke jurusan Filsafat harus beradu argumen dengan Sobri, anak Pak Waso, tukang gali kubur, yg mendapat beasiswa jurusan Pendidikan. Malam itu, keduanya beradu ‘perspektif‘ dan ‘intuisi’, hanya dalam masalah pembuatan kubah masjid Dusun Ciboled yg sudah hampir rampung.

Baca lebih lanjut

GUBAH – UBAH – KUBAH

Warga Dusun Ciboled sepakat musyawarah bulanan Dusun itu dilaksanakan di rumah Pak Romdoni; salah satu warga Dusun yang masih aktif bermasyarakat. Pemilihan itu sudah sesuai dengan kesepakatan jumhur warga. Selain lokasinya yang mudah ditempuh dari berbagai penjuru dusun, rumah pak Romdoni juga berdekatan dengan masjid, satu dari beberapa bahan diskusi yang menjadi bahan pembahasan. Musyawarah malam itu dibuka oleh pak RW yang juga bertindak selaku moderator. Singkat cerita, beberapa masalah desa perlahan termufakatkan malam itu; persiapan sistem irigasi menuju musim hujan, Penghitungan ulang jumlah sapi dan hewan peternakan lain untuk persiapan stock pembuatan pupuk kompos, Persiapan Ramadhan dan Perampungan pembangunan masjid.

Baca lebih lanjut

Pesantren dan Modernitas: Studi Tebuireng

Pesantren adalah suatu lembaga tertua yang ada di Indonesia. Kiprahnya terhadap Bangsa sudah tidak bisa diragukan lagi. Berbagai tokoh Pendidikan Bangsa yang sebagian besar juga menjadi pahlawan pergerakan Bangsa turut lahir dari rahimnya. Banyak karya ilmiah yang berasal dari pola kemajuannya. Hal ini mengajarkan kita akan suatu hikmah: bahwasanya pendidikan merupakan basis perjuangan.

Baca lebih lanjut