ALASAN

Syahdan, 

Terdapat kisah tentang seorang pemuda desa yang hendak menuju ke Jakarta. Pemuda itu adalah santri tulen yg benar-benar dari pelosok desa di daerah Jawa Tengah. Rihlah ilmiyyah (pengembaraan ilmunya) dimulai di Banyuwangi, satu titik dari garis katulistiwa intelektualitas Pesantren di masanya.

Berwindu-windu berlalu dengan kitab, riyadloh dan kayu bakar, membuatnya semakin terlihat matang. Kehidupan goresan pena diatas kertas kuning seketika berubah setelah sang Kyai meminta pemuda itu untuk turut membantu adiknya yang hendak mendirikan Pesantren. 

Komando Kyai adalah sabda bagi santri. Komando Kyai konon lebih sakral dibanding panggilan bangun sahur. Sebab, menolak panggilan bangun sahur kau hanya menyesal karena tertinggal untuk tidak mendapat asupan energi sehari, sedang menolak perintah Kyai, kau akan menyesal karena tidak mendapatkan energi keberkahan ilmu yang telah ditimba selama-lamanya.

Ndawuh Kyai menjadi semakin membingungkan, perintahnya hanya diminta menuju Pesantren yang hendak dibangun adiknya di Jakarta, dengan hanya memberikan alamat sederhana tanpa penjelasan rute dan alamat detailnya. 

Namun, perintah tetaplah perintah. Pantang mundur apalagi bertanya berlebih. Jika sampai itu terjadi, hal itu malah membuat mosi ketidakpercayaan Kyai terhadap pemuda tersebut yang sudah mendidiknya selama ini. Bahkan bisa jadi berpengaruh terhadap keridhoan atas apa yang telah diamanahkan.

Sampailah pada momen dimana barang sudah dirapihkan, dan pamit sudah dilayangkan kepada Kyai dan rekan-rekan sejawatnya. Tapak kaki sederhana pemuda itu sampai di terminal yang telah ia ketahui dari rekannya yang biasa menaiki bus. Namun disayangkan, pemuda yang biasa hanya memikul kitab dan kayu bakar dari pekarangan, hanya mampu tertegun melihat sekelumit armada yang berlalu lalang dihadapannya. Ia rupanya bingung kereta mana yang hendak dinaiki dan ciri seperti apa yang harus dibelinya. Kebingungan semakin nyata, karena ia hanya membawa ongkos pas-pasan dari tabungan yang berasal dari upah memotong kayu bakar permintaan warga sekitar Pesantren.

Pemuda itu secepat kilat menepis semua ragu. Zikirpun terlirih dalam hening. Pejam mata memunculkan bayangan Kyainya dalam khusuk. Penuh teduh, santun dan bersahaja. Auranya yang menenangkan membuatnya lisannya terus melafazkan bait-bait Kalimah Thoyyiban. 

Pejaman mata semakin mendalam. Sebab rindu dan keyakinan yang diberikan saling berkelindan. Pantaskah diri yang masih sangat bodoh itu untuk berdakwah. Bagaimana jika ia tidak mampu menyetarakan diri dengan budaya ala ibukota? Lantas ada apa di balik semua kronologis ini, apakah pelayanannya terhadap Ndalem tidak memuaskan. Apakah ini bentuk ‘pengusiran’. Dan apakah-apakah lainnya yang bermain dalam benak pemuda tanggung berusia dua puluhan tahun itu.

Blak!

Tiba-tiba pejaman mata terbuka sebab sentuhan yang mengenai pundak kanannya. Bayangan sang Kyai dalam hening membuyar seketika. Seseorang yang terlihat sederhana, berwibawa dengan perawakan di sampingnya itu mengagetkan zikir lirihnya. Rupanya bapak itu yang sengaja menyenggol pemuda semi-tanggung itu.

“Mas, mau kemana? Awas loh kalau ketiduran nanti ketinggalan bus nya..” bapak itu menasehati.

“Saya mau ke Jakarta Pak.. Jakarta Barat.” Jawab lugu pemuda semi-tanggung itu sedikit waspada. Kiranya, semua maklum, bahwa point pertama ketika bertemu orang yang baru dikenal adalah waspada.

“Owalah, sama dong.. sudah membeli tiketnya kah? Atau sampeyan berencana beli di bus saja?” Tambah Bapak itu.

“Sepertinya di dalam bus saja, Pak. Lebih praktis..”. Jawab pemuda itu, meski sebenarnya iapun belum begitu memahami apakah pembayaran di bus menuju Jakarta sama dengan pembayaran di Bus menuju Banyuwangi ketika dahulu ia hendak berangkat untuk mondok.

“Ohyowes, saya naik bus itu, sampeyan sama ya?” Tanya Bapak itu lagi.

“Iya Pak, saya naik itu. Itu menuju Jakarta Barat kan?” Sembari memincingkan mata menyoroti papan tujuan bus yang biasa terpasang di kaca depan sebelah tengah atas Bus. Ia juga bermaksud memastikan agar pertanyaan yang diajukan adalah benar. (Haha, dasar pemuda yang lugu)
Brumm.. brumm.. brumm..
“Jakarta! Jakarta! Jakarta!

Ayo Jakarta! ”

Teriakan kondektur menjadi pemisah jeda singkat dari obrolan antara Bapak dan pemuda itu. Keduanya dan penumpang yang lain berlari menuju pintu masuk bus. Ia sedikit kesulitan dalam berlari, sebab harus membawa tas lumayan besarnya yang berisi pakaian dan kitab-kitab yang pernah diajarkan Kyai. 

Pemuda itu sontak kaget, sebab Bapak yang barusan mengajaknya ngobrol itu hendak ke Jakarta, namun tidak membawa barang apapun. Berbeda dengan penumpang lainnya termasuk dirinya. Namun, di tengah kesulitan itu, ia menepis pikiran-pikiran anehnya. Sebab yang menjadi inti pikirannya sekarang adalah bagaimana ia bisa sampai di Jakarta Barat dengan selamat dan alamat yang tepat.

Setelah menyimpan tas besarnya di bagasi bawah. Ia pun menaiki bus dan mulai mencari kursi kosong. Namun, tiba-tiba dari sekian banyak orang yang mencari, kursi yang ia dapatkan mempertemukan kembali dengan Bapak yang sebelumnya ia temui.

“Wah mas ini lagi, sini mas, kosong kok..” sembari melempar senyum.

Pemuda itu mengangguk tanda mengiyakan dengan pula membalas senyuman. “Terima kasih, Pak..”.

Pemuda itu sejenak menarik-henbuskan nafas. Berharap ia benar-benar menaiki bus yang tepat dan dapat sampai pada tujuannya, sehingga berharap pula Kyai memberinya ridho.

“Sampeyan ini ke Jakarta mana tadi Mas?, Barat ya?” Pertanyaan Bapak itu memecah hening dalam zikir singkat pemuda itu setelah menghela nafas.

“Enggih, Pak.. saya mau ke sana.” Jawab pemuda itu.

“Jakarta Baratnya mau kemana kalau boleh tau?” Tanya kembali Bapak tersebut.

“Saya disuruh Kyai menuju Pesantren yang baru dibangun oleh adiknya di Jakarta Barat. Daerah Kebon Jeruk.” Sembari membaca secarik kertas yang didapatnya dari Kyai sebelum pamit.

Bus melaju..

Jendela bus kemudian menjadi klise berjalan yang tanpa putus. Jalanan kali itu cukup lowong. Cuaca juga cerah tanpa hujan dan gerimis yang mengundang. (#eaa) perjalanan semakin seru ketika keduanya semakin akrab.

Bapak itu mengaku bernama Amir (bukan nama sebenarnya). Ia menyampaikan hendak ke Jakarta untuk bekerja. Pemuda itu juga memperkenalkan dirinya. Obrolan semakin hangat, ketika Pak Amir memintanya menjelaskan pengalaman selama di Pesantren dan sosok Kyai nya yang sering disebut-sebut dalam penjelasannya.

Bus melaju semakin cepat, bus Malam Jawa adalah wahana Rolingcoster sederhana bagi penikmat adrenalin. Jika dibandingkan dengan yang ada di Dufan, mungkin hanya sepersekian persen. Sebab tantangan yang kau hadapi adalah antara hidup dan mati 😂

Singkat cerita, bus itu mendekati daerah Grogol. Penumpang sudah bersiap-siap dan mulai membereskan barang-barangnya masing-masing. Dalam perjalanan, Pak Amir selalu menjelaskan dengan rinci rute dan angkutan mana yang harus saya naiki dan mana yang mampu menjadi alternatif. Namun, Jakarta kala itu tentu tidak serimba kini. Angkutan adalah primadona bagi masyarakat. Sehingga benar apa yang disampaikan Pak Amir; ia menawarkan alternatif-alternatif lain apabila pemuda itu kesulitan dalam mendapatkan angkutan yang diharapkan.

Selama perjalanan, Pak Amir juga bercerita tentang sosok Adik Kyai nya yang dimaksud. Ia mengaku tau dan kenal tentangnya. Bahkan ia mampu menjelaskan bentuk wajah dan karakter tubuh Adik Kyai tersebut itu persis sebagaimana tatkala pemuda itu ingat secara tidak sengaja pernah melihatnya di ndalem.

“Sudah hampir sampai nih, tadi yang saya jelaskan tolong diingat-ingat. Berhati-hatilah di Jakarta. Adik Kyaimu itu orang yang sangat berani dan alim. Sungguh beruntung kamu diperkenalkan dengan beliau…” Saran Pak Amir.

“Eh, tapi ongkosmu ada kah?” Sigap Pak Amir menambahkan.

“insyaAllah masih ada Pak.. saya sangat berterimakasih ya Pak, sudah dikasih tau alamat dan Informasi lainnya.. mudah-mudahan bisa bertemu lagi..” jawab pemuda itu merespon.

“Oh iya ndak apa-apa. Sampeyan yang betah. Kalau berdekatan dengan orang baik, insyaAllah akan juga terkena kebaikannya.” pak Amir menasehati.

“Enggih Pak, terimakasih..” 

Bus mendekati terminal, Pak Amir dan pemuda itu sudah berdiri dan siap untuk turun. Setelah bus benar-benar telah berhenti, berjalanlah para penumpang dan keduanya menuju pintu luar. Pemuda itu tepat berjalan di belakang Pak Amir tanpa ada penumpang lainnya yang menghalangi.

Ketika Pak Amir sudah menginjak tangga menuju turun, pemuda itu juga mengikuti, ada hal yang sangat aneh terjadi. 

Pak Amir yang tadinya berada persis di depan nya, ketika turun nyaris tidak sama sekali terlihat batang hidungnya.

Pemuda itu sungguh sangat kaget, ia mengelilingi bus memastikan bisa menemui bapak itu untuk mengucapkan terimakasih yang terakhir kalinya sebelum berpisah.

Ia melihat satu persatu orang yang baru turun tadi dan berjalan cepat sedikit melongok orang-orang yang berjalan dari bus itu satu persatu untuk memastikan dapat bertemu dengan bapak itu kembali. Setiap wajah dan postur tubuh terus ia cari seputar bus bahkan jarak 10 meter di sekitarnya. Namun bapak itu tidak juga bisa ditemukan.

Jikapun Pak Amir langsung pergi karena tidak membawa barang apa-apa, tentu juga ia dapat melihatnya dalam radius 5 meter. Mengingat ia tepat berada di belakang Pak Amir sebelum turun. Atau jangan-jangan Pak Amir langsung menaiki bajaj, motor dan semisalnya? Jikapun demikian juga, tentulah ia bisa melihatnya naik kendaraan tersebut.

Pemuda itu terus berzikir, melantunkan Kalimah Thayyibah tanpa hela. Wajah polosnya dihiasi kerutan alis yang bertemu semakin menambah cepat alunan zikirnya.

Sampai kemudian ia bertakbir penuh haru! 

Allahu Akbar!

Sungguh, Allah bersama hamba-Nya yang yakin akan kebesaranNya.

Rute yang dijelaskan oleh Pak Amir mengantarkannya pada alamat yang dituju. Pemuda itu semakin takjub. Zikir tak mampu lepas seakan ia adalah hembusan nafas yang menyatu dalam udara.

Keberkahan dan karomah Kyai dan keluarga Kyai adalah hal-hal yang tak sampai indera kita. Pemuda itu menegaskan bahwa, orang-orang seperti Kyai dan keluarganya adalah mereka yang memiliki sesuatu yang sangat berbeda. Tentu untuk menjadi sosok seperti Kyai semua memiliki potensi. Hanya saja, tidak semua orang mau untuk berkomitmen dengan riyadloh, bersungguh sungguh dalam mencari ilmu, dan mau menempa diri dengan selalu menjadikan Allah sebagai satu-satunya alasan kita beribadah. 

Dan tahukah anda, bahwa Pemuda dalam kisah ini kemudian menjadi Ayah saya yang juga penutur utama dalam kisah yang kini sudah anda selesai baca. Dan adik Kyai yang dimaksud dalam kisah adalah Al-Mukarrom Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, Allah  yarham lahu wa ushulihi wa furu’ihi wa dzawi silsilatih.. alfatihah..

Allahu Akbar!

Ciputat, 28 September 2017

#syafiilosofi

Iklan

Cara Menasehati ala Imam Hambali

“Walaupun durian yang paling enak engkau berikan pada seseorang, tapi dengan cara melemparkannya , maka orang itu pasti akan marah”

Kisahnya …..

Adalah Harun ibn ‘Abdillah, seorang ulama ahli hadits yang juga pedagang kain di kota Baghdad, menceritakan betapa baiknya seorang Ahmad ibn Hanbal dalam mengkritik dan memberi nasehat.

Baca lebih lanjut

Taddabur Islam Kejawaan di Indonesia

[ seluruh tulisan ini di copas dari KH. Agus Sunyoto (LESBUMI NU) ]

Alhamdulillah, akhir-akhir ini orang merasakan manfaatnya Nahdlatul Ulama (NU). Dulu, orang yang paling bahagia, paling sering merasakan berkahnya NU adalah keluarga orang yang sudah meninggal : setiap hari dikirimi doa dan tumpeng.

Hari ini begitu dunia dilanda kekacauan, ketika Dunia Islam galau: di Afganistan perang sesama Islam, di Suriah perang sesama Islam, di Irak, perang sesama Islam. Semua ingin tahu, ketika semua sudah jebol, kok ada yang masih utuh: Islam di Indonesia.

Baca lebih lanjut

GULIR

Nama Gajah Mada santer diperbincangkan setelah munculnya pameo Gaj Ahmada, yg disinyalir sudah memeluk Islam. Namanya memang sudah lama terkenal, setelah ditemukannya Kitab Pararaton di Bali akhir abad-20 yg juga menyinggung Sumpah-nya yg tidak akan berhenti berpuasa/istirahat (Palapa) sebelum membuat daerah-daerah lain masuk dlm kekuasaan Majapahit. Sumpah inilah yg kita kenal dg Sumpah Palapa.

Daerah-daerah lainnya yg disebut dlm kitab itu diperkenalkan dengan istilah ‘Nusantara’ (Nusa=Kepulauan, Antara=Seberang). Istilah ini kemudian dipakai sbg representatif bentangan pulau Negeri kita.

Sebelumnya sudah dipakai ‘Dwipantara’ ala Kerajaan Singosari, namun istilah yg pertama lebih mendapat tempat, meski posisinya adalah kelanjutan.

Istilah ini jg dipakai sbg defensi berlebihannya semangat kesukuan (tribalistik) dan kedaerahan (primordialistik). Sbgmana kelak muncul, Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes dll dlm sejarah diplomatik Bangsa kita. Jika tidak diarahkan dlm simpul kebinekaan, sifat tsb malah menjadi bumerang bagi kemajemukan Bangsa. Demikian yg dilakukan Moh. Yamin sbg contoh konkrit ‘National Building’.

.

Belakangan timbul pendapat untuk mengembalikan istilah ini ke makna awal. Dg dalih, derah yg disebut Gajah Mada pun tidak mewakili keseluruhan Kepulauan Bangsa. Terlebih dg kemajuan zaman & pemikiran, penggunaan NKRI saja dianggap cukup.

.

Istilah Nusantara hanyalah sbg ‘simbol’. Sebagaimana kita mengenal simbol dlm tulisan yg berfungsi namun bukan inti. Toh, ia jg berasal dari bahasa Sansekerta, bahasa Nenek Moyang kita. Tulisan tanpa simbol menimbulkan multitafsir, sbagaimana simbol tanpa tulisan. Keduanya adalah simpul yg berkaitan. Dalam hal

ini, istilah Nusantara adalah si simbol tadi, dan kedigdayaan Maritim kita adalah tulisannya. Kemampuan mengagumi tulisan perlu simbol2 yg jelas pula bukan?

Demikian pula… jika hati ibarat simbol, siapakah gerangan yg hendak jadi baris tulisannya? 😂

.

Sawah, Juni 2017

.

#syafiilosofi

#majapahit

Untukmu yang menyejarah

Banyak orang menyatakan bahwa dirinya tidak menyukai sejarah. Dengan berbagai alasan yang dikemukakan, hampir seluruhnya berujung pada satu definisi umum, bahwa ‘Sejarah adalah suatu ilmu yang membosankan dan tidak berefek apapun terhadap dirinya, maupun kehidupannya”.

Sejarah sebagai suatu ilmu tersendiri memang tidak seperti disiplin ilmu pada umumnya. Ia seperti tidak memiliki suatu rumus baku dalam penyelesaiannya. Seakan tidak ada formula khusus dalam mengurai apa yang ingin diselesaikan. Tidak seperti ilmu eksakta, atau ilmu baku lainnya.

Meminjam istilah Louis Gotchalk,

“every man his own historian”

Bahwa setiap orang adalah sejarawan bagi dirinya sendiri. Setiap orang akan menjadi sejarawan yang akan menjelaskan dirinya sendiri.

Dia akan menjelaskan tentang sejarah hidupnya, sejarah orangtuanya, sejarah tentang perjalanan hidupnya dan sejarah apapun yang berkaitan tentang apa yang ada dalam hidupnya.

Sederhananya,

“Sejarah adalah menceritakan manusia di dalam waktu”. Artinya bahwa, inti dari sejarah adalah manusia yang ‘bertugas’ sebagai subjek utama dalam rentetan waktu. Jika kita membuat suatu logika premis sederhana, maka;

+ Sejarah adalah menceritakan manusia di dalam waktu

+ Setiap dari kita adalah manusia

_________________________________________+

+ Setiap manusia adalah pelaku utama sejarah

Sungguh, setiap ilmu adalah hasil dari perenungan dan pengalaman dari suatu kejadian yang panjang nan berulang. Karenanya, dibuatlah suatu analisa untuk menyelesaikan kejadian itu agar menjadi masalah yang dapat terselesaikan dengan bijak demi kemaslahatan umat manusia. Dibuatlah suatu formulasi yang dapat menghasilkan kejadian baru yang lebih solutif dan mengedepankan nilai-nilai.

Tantangan sejarah di masa depan

Mengutip lirik Mbak Inul Daratista-, bahwa “masa lalu biarlah masa lalu.” Menariknya, petikan berikutnya adalah “Jangan kau ungkit jangan kau ingat selalu“. 

Memang, lagu ini menjelaskan tentang suatu hal yang menyakitkan sebelumnya, sehingga merasa tidak perlu diulas kembali. Padahal ilmu sejarah sudah menawarkan kemudahan siapapun yang mau membahasnya.

Dalam sejarah, ini disebut sebagai suatu rekonsiliasi, yakni usaha untuk menemukan [minimal mendekati] kebenaran yang diamini semua pihak. Kita memang tidak bisa menerka kebenaran, namun tetap diperlukan usaha untuk berusaha mendekati hal itu. Demikian qoul para filosof.

Rekonsiliasi sering dilakukan modern ini. Suatu Negara yang pernah menjajah terkadang melakukan rekonsiliasi kepada negara yang pernah dimakannya. Kemudian memberikan beberapa ganti rugi bagi negara yang dijajah itu. Di Indonesia sendiri, usaha rekonsiliasi pernah dilakukan. Tepatnya pada Korban G-30 September. Pemerintah membuat suatu usaha menemukan titik temu bagi para korban peristiwa yang memilukan itu dan mengajak dialog. Usaha ini diharapkan mampu meredam ‘sakit hati’ para korban, keluarga dan keturunannya. Mereka harus mendapat cap Eks-Tapol (Tahanan Politik) yang dipandang sebagai  stigma negatif. Dengan adanya usaha ini pula, timbul kembali suasana kondusif dalam berkehidupan sehari-hari.

Demikian sejarah menempatkan manusia sebagai subjek utama. Dari perjalanan panjang sejarah, muncullah ilmu-ilmu kemanusiaan lainnya. Misal: Sosiologi, Antropologi, Psikologi dan lainnya. Seluruhnya tentu hasil dari perjalanan sejarah tadi. 

Kaderisasi sejarawan adalah hal mutlak bagi manusia. Karena, sejauh-jauhnya burung terbang, ia akan tetap kembali ke sarangnya. Semodern-modernya manusia menciptakan zaman, ia akan kembali kepada kodratnya sebagai manusia, yang akan memunculkan rasa keingintahuannya kepada asal-usul dan kisah sebelumnya.

Setiap langkah kita, adalah langkah yang telah kita lalui sebelumnya.

Demikian pula,

Aku akan tetap berada disini sampai kapanpun dan ku biarkan kau beranjak kemanapun kau mau. Agar ketika kau merasa tak beranjak, setidaknya ada aku yang mudah kau temui keberadaannya. 

🙂 

Gubah – Ubah – Kubah (4)

“Oh iya, maaf Pak Ustadz, saya minta izin tahan dulu, ada beberapa hal yang agaknya perlu di diskusikan secara mendalam, terlebih mengenai warga kita.” jawab Pak RW.

“Karena masalah ini saya anggap penting, makanya saya hanya meminta bapak-bapak di sini sebagai sosok yang saya harapkan bantuan jawabannya.”

“Bapak-bapak.. Ciboled adalah Dusun yang sudah sangat jauh dari pusat kota, dan saya yakin semua sudah menyadari hal itu…”. Lanjutnya.

“Semua dari kita pun menyadari, bagaimana orang tua kita membangun Dusun ini sedemikian rupa, sehingga anak cucu kita saat ini bisa merasakan bagaimana sejuknya wilayah ini”.

“Saat ini kita tengah berhadapan dengan apa yang orang sebut sebagai suatu hal yang perlu diwaspadai. Setiap orang bahkan telah merasa seakan-akan menjadi orang lain. Dan yang disayangkan, itu yang mulai kini kita tengah rasakan..”

Pak Ustadz Anas, dan yang lainnya semakin tertegun mendengar penjelasan Pak RW.

“Hal sederhananya bisa kita saksikan malam ini..”

“Rapat malam ini menunjukkan bagaimana anak muda kita telah mengalami sedikit perubahan. Yaa.. saya lebih suka menyebutnya ‘sedikit’.. karena biar bagaimanapun, masih saya liat bagaimana mereka tetap merasa diri sebagai seorang asli Ciboled, yang santun terhadap yang tua, dan tadi juga kalo ga salah mereka yang membereskan rumah bapak ya setelah rapat tadi”, lanjut Pak RW sambil melihat Pak Romdoni yang dibalas dengan anggukan berulang.

“Benar apa yang disampaikan Nabi Muhammad, bahwa musuh yang sebenarnya itu ada dalam diri kita masing-masing. Ketidakmampuan dalam menangani hal ini akan malah membuat pemuda kita semakin memprihatinkan..”, “Untuk hal ini mungkin Ustadz Anas lenih mafhum dibanding saya..” kembali wajahnya menoleh, kali ini yang disasar adalah Ustadz Anas. Melihat alis Pak RW yang menaik di pangkal dan menurun di ujungnya, Ustadz Anas mengambil nafas panjang, beliau sepertinya merasakan apa yang Pak RW risaukan.

“Maaf Pak RW, bukankah berangkatnya mereka ke kota, adalah pilihan yang sebelumnya telah disepakati banyak tokoh masyarakat Dusun dan guru-guru Ciboled?” Pak RT 01 mulai angkat bicara. Ia menyadari, bahwa sebagian besar pemuda yang berangkat ke kota memang berasal dari wilayahnya. Pak RT 01 yang bernama Pak Supra, memiliki tubuh berisi namun tidak terlalu gemuk. Ia adalah ketua RT yang dianggap paling kritis terhadap Dusunnya. Karena memang, hanya wilayahnya saja lah yang menjadi perbatasan, lucunya, wilayah itu juga tidak berdekatan dengan sungai dan sawah. Malah lebih dekat ke perbatasan Dusun Cirampes, Dusun sebelah yang menjadi sumber penambangan batu koralit dan split. Menariknya, warga Ciboled tidak ingin wilayahnya dilalui jalur truk-truk besar yang mengangkut hasil penambangan itu. Namun, karena letak geografis yang membuat cukup sulit untuk dialihkan, mau tidak mau wilayah RT 01 lah yang rela mengalah, sebab terdapat kelokan yang menjadi penghubung ke Dusun sebelahnya jika tidak melalui ujung Ciboled itu. Dengan begitu, wilayah RT 01 sedikit terasa lebih ramai dan bising dibanding wilayah RT lainnya.

“Benar Pak RT Supra, berkumpulnya kita disini adalah hasil lain dari harapan itu. Kita sama-sama berembug disini, agar mampu menemukan langkah-langkah pencegahan ke depannya. Apalagi saya dengar beasiswa berikutnya akan datang lagi kesini ya Pak RT Sandi?” menengok ke arah Pak RT Sandi, ketua RT 02. Pak RT Sandi adalah seorang guru di Madrasah Aliyah Negeri Ciboled. “Iya betul begitu Pak RW, Insya Allah 2 tahun lagi menurut informasi yang pernah disampaikan oleh orang  Kabupaten” jawab Pak Sandi.

“Bapak-Bapak, saya sungguh tidak ingin membahas mendalam mengenai beasiswanya, apalagi sampai harus menyalahkannya. Kita sudah merasa sangat terbantu dengan banyaknya kemudahan pendidikan tinggi yang diberikan kepada Dusun kita.”

“Setiap manusia pada hakikatnya adalah orang baik. Lingkungannya lah yang memberi warna orang tersebut. Anak-anak itu terlahir dari saripati Ciboled. Tumbuh dan besar dalam wilayah yang selalu kita jaga keasrian daratan dan masyarakatnya. Mungkin Bapak-bapak mungkin masih ingat bagaimana dahulu ketika ada orang yang bergabung bersama kita, namun dia ingin mengubah pola kehidupan masyarakat dengan apa yang ia yakini. Ia selalu menawarkan gagasan yang sebenarnya bagus, namun sangat disayangkan penyampaian yang dilakukantidak dengan pendekatan-pendekatan yang berlandaskan pendekatan yang harmonis. Ketika sedang rapat tadi, saya dibisiki hal ini oleh Pak Romdoni, dan seakan teringat kembali. Sosok yang cerdas itu harus pergi sebelum menyelesaikan keinginan baiknya itu bagi Dusun ini. Bukankah itu sangat dilematis?”.  Iba Pak RW.

“Jadi intinya adalah, bagaimana kita mulai mencari solusi untuk anak-anak pemuda ini ya Pak RW?” tanya Pak RT Supra.

“Kira-kira demikian Pak RT..” sigap Pak RW.

Revolusimu Belum Selesai, pekik Bung Karno dalam suatu podium. Agaknya ini sesuai dengan problem yang tengah dihadapi. Para tokoh Agama dan Masyarakat itu mencoba mengurai masalah itu malam ini. Seduhan kopi sudah lama dingin, sebagaimana udara malam Ciboled.